Pacu Jalur telah dikenal masyarakat Kuantan Singingi sejak lama. Perlombaan olahraga rekreasi itu bahkan mampu pula menyedot perhatian dunia. Inilah salah satu kekuatan  lokal di tanah Riau yang telah menjadi destinasi wisata budaya setiap tahunnya. Setiap perhelatan itu dilaksanakan, maka seluruh mata akan tertuju ke Batang Kuantan yang hiruk-pikuk dengan teriakan-teriakan semangat para pendayung untuk menjadi pemenang.
Pacu Jalur telah dikenal masyarakat Kuantan Singingi sejak lama. Perlombaan olahraga rekreasi itu bahkan mampu pula menyedot perhatian dunia. Inilah salah satu kekuatan  lokal di tanah Riau yang telah menjadi destinasi wisata budaya setiap tahunnya. Setiap perhelatan itu dilaksanakan, maka seluruh mata akan tertuju ke Batang Kuantan yang hiruk-pikuk dengan teriakan-teriakan semangat para pendayung untuk menjadi pemenang.

Selain sebagai acara olahraga yang banyak menyedot perhatian masyarakat, Pacu Jalur juga mempunyai daya tarik magis. Festival Pacu Jalur dalam wujudnya memang merupakan hasil budaya dan karya seni khas yang merupakan perpaduan antara unsur olahraga, seni, dan olah batin. Masyarakat pendukungnya percaya yang banyak menentukan kemenangan dalam perlombaan ini adalah olah batin dari pawang perahu atau dukun perahu. Keyakinan magis ini dapat dilihat dari keseluruhan acara, dari persiapan pemilihan kayu, pembuatan perahu, penarikan perahu, hingga acara perlombaan dimulai, yang selalu diiringi ritual-ritual magis. Pacu


Jalur merupakan adu unjuk kekuatan spiritual antar dukun jalur. Selain perlombaan, dalam pesta rakyat ini juga terdapat rangkaian tontonan lainnya, di antaranya Pekan Raya, Pertunjukan Sanggar Tari, pementasan lagu daerah, Randai Kuantan Singingi, dan pementasan kesenian tradisional lainnya dari kabupaten atau kota di Riau.
Pacu Jalur merupakan sebuah perlombaan mendayung di sungai dengan menggunakan sebuah perahu panjang yang terbuat dari kayu pohon. Panjang perahu ini bisa mencapai 25 hingga 40 meter dan lebar bagian tengah kira-kira 1,3 m s/d 1,5 m, dalam bahasa penduduk setempat, kata Jalur berarti Perahu. Setiap tahunnya, sekitar tanggal 23-26 Agustus, diadakan Festival Pacu Jalur sebagai sebuah acara budaya masyarakat tradisional Kabupaten Kuantan Singingi, Riau bersamaan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.


Sejarah Pacu Jalur Kuantan Singingi
Catatan panjang sejarah, Batang Kuantan yang terletak antara Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu dan Kecamatan Cerenti di hilir, telah digunakan sebagai jalur pelayaran jalur sejak awal abad ke-17. Di sungai ini pulalah perlombaan pacu jalur pertama kali dilakukan. Sedangkan, arena lomba pacu jalur bentuknya mengikuti aliran Batang Kuantan, dengan panjang lintasan sekitar 1 km yang ditandai dengan enam tiang pancang.

Pada awalnya, pacu jalur diselenggarakan di kampung-kampung di sepanjang Sungai Kuantan untuk memperingati hari besar Islam. Namun, seiring perkembangan zaman, akhirnya Pacu Jalur diadakan untuk memperingati Kemerdekaan RI. Oleh karena itu Pacu Jalur diadakan sekitar bulan Agustus. Dapat digambarkan saat hari berlangsungnya Pacu Jalur, kota Jalur bagaikan lautan manusia. Terjadi kemacetan lalu lintas dimana-mana, dan masyarakat yang ada diperantauan akan terlihat lagi, mereka akan kembali hanya untuk menyaksikan acara ini. Biasanya jalur yang mengikuti perlombaan, bisa mencapai lebih dari 100. Menurut masyarakat setempat jalur adalah 'perahu besar' terbuat dari kayu bulat tanpa sambungan dengan kapasitas 45-60 orang pendayung (anak pacu).

Pada masa penjajahan Belanda pacu jalur diadakan untuk memeriahkan perayaan adat, kenduri rakyat dan untuk memperingati hari kelahiran ratu Belanda wihelmina yang jatuh pada tanggal 31 Agustus. Kegiatan pacu jalur pada zaman Belanda di mulai pada tanggal 31 agustus s/d 1 atau 2 september. Perayaan pacu jalur tersebut dilombakan selama 2-3 hari, tergantung pada jumlah jalur yang ikut pacu.

Untuk Festival Pacu Jalur tahun ini, jalur andalan Danau Baru Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Tuah Kalajengking Muda Indragiri keluar sebagai juara pada perhelatan Nasional Pacu Jalur Tradisional 2015 di Tepian Narosa Telukkuantan, Ahad, 23 Agustus malam. Tuah Kalajengking berhasil meraih titel juara setelah mengalahkan jalur Tuah Koghi Dubalang Ghajo dari Pintu Gobang Kari, Kuantan Tengah, Kuansing di laga final. Dimana, sebelumnya Tuah Koghi mampu menumbangkan Panglimo Olang Putiah. Final segitiga ini usai dilaksanakan ketiga jam menunjukkan pukul 17.19 WIB. Dalam keadaan gelap inilah Tuah Kalajengking berhasil menumbangkan kehebatan Tuah Koghi. Tuah Kalajengking berhak membawa pulang piala bergilir Menteri Pariwisata RI, piala bergilir Bupati Kuansing dan hadiah-hadiah tetap lainnya.

Post a Comment

Previous Post Next Post