Suku Duano atau dikenal juga dengan Suku Laut Indragiri Hilir memiliki tradisi yang unik dan sudah ada sejak lama, yaitu menongkah kerang.   Atraksi menongkah kerang ini hanya ditemukan di kampung Suku Laut Indragiri Hilir khususnya di Kecamatan Tanah Merah dan Concong. Kegiatan ini menurut warga setempat sudah ada sejak tahun  1685.  Menongkah atau Tongkah itu sendiri adalah sejenis papan datar yang digunakan oleh masyrakat Suku Laut untuk mencari kerang darah di pinggir pantai, kerang merah atau Tiangan (bahasa orang Suku Laut). Tongkah tersebut sebagai alat bantu untuk berpijak di lumpur, kalau tidak menggunakan tongkah, kaki tenggelam di lumpur. Ukuran tongkah biasanya rata-rata 2 meter - 2,5 meter dengan lebar 50 cm - 80 cm.  Kayu yang digunakan masyarakat biasanya berjenis kayu Pulai dan Jelutung dan yang lainnya. Masing-masing ujung papan tongkah dibuant agak lonjong (lancip) dan berlekuk ke atas, agak mirip dengan papan seluncur, ini agar saat papan di gerakkan tidak tertancap ke dalam lumpur.   Menongkah kerang biasanya dilakukan masyarakat di waktu sore, namun ada juga malam, saat air sungai surut. Setidaknya ada sekitar 17 lokasi yang biasa di gunakan warga untuk mencari kerang diantaranya, di Sungai Bidari, Sungai Besar, Sungai Kecil, Sungai Beruang, Sungai Bukit, Desa Sungai Laut, Sungai Gamak Kecil, Sungai Gamak Besar, Sungai Temiang Kecil, Sungai Temiang Besar, Sungai Menteli, Sungai Lada, Sungai Barogong, Sungai Keramat dan Desa Sungai Buluh itulah, tempat Orang Suku Laut mencari kehidupan.  Menongkah kerang massal yang dilakukan Suku Duano telah mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tahun 2008, kategori Menongkah massal dengan peserta lebih dari 500 peserta.

Suku Duano atau dikenal juga dengan Suku Laut Indragiri Hilir memiliki tradisi yang unik dan sudah ada sejak lama, yaitu menongkah kerang.

Atraksi menongkah kerang ini hanya ditemukan di kampung Suku Laut Indragiri Hilir khususnya di Kecamatan Tanah Merah dan Concong. Kegiatan ini menurut warga setempat sudah ada sejak tahun  1685.

Menongkah atau Tongkah itu sendiri adalah sejenis papan datar yang digunakan oleh masyrakat Suku Laut untuk mencari kerang darah di pinggir pantai, kerang merah atau Tiangan (bahasa orang Suku Laut). Tongkah tersebut sebagai alat bantu untuk berpijak di lumpur, kalau tidak menggunakan tongkah, kaki tenggelam di lumpur. Ukuran tongkah biasanya rata-rata 2 meter - 2,5 meter dengan lebar 50 cm - 80 cm.

Kayu yang digunakan masyarakat biasanya berjenis kayu Pulai dan Jelutung dan yang lainnya. Masing-masing ujung papan tongkah dibuant agak lonjong (lancip) dan berlekuk ke atas, agak mirip dengan papan seluncur, ini agar saat papan di gerakkan tidak tertancap ke dalam lumpur.

Menongkah kerang biasanya dilakukan masyarakat di waktu sore, namun ada juga malam, saat air sungai surut. Setidaknya ada sekitar 17 lokasi yang biasa di gunakan warga untuk mencari kerang diantaranya, di Sungai Bidari, Sungai Besar, Sungai Kecil, Sungai Beruang, Sungai Bukit, Desa Sungai Laut, Sungai Gamak Kecil, Sungai Gamak Besar, Sungai Temiang Kecil, Sungai Temiang Besar, Sungai Menteli, Sungai Lada, Sungai Barogong, Sungai Keramat dan Desa Sungai Buluh itulah, tempat Orang Suku Laut mencari kehidupan.

Menongkah kerang massal yang dilakukan Suku Duano telah mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tahun 2008, kategori Menongkah massal dengan peserta lebih dari 500 peserta.

Post a Comment

Previous Post Next Post