Jika tak mencicipi gulai ikan salai, pastilah belum lengkap rasanya bila berkunjung ke Riau. Gulai ikan salai merupakan makanan khas Provinsi Riau.  Bahan utama gulai ikan salai selais, adalah ikan selais. Ikan yang hidup di perairan Riau ini sudah menjadi ikon di Bumi Lancang Kuning. Popularitas ikan bernama latin Kryptopterus lais ini pula yang menginspirasi berdirinya Tugu Ikan Selais Tiga Sepadan di Pekanbaru. Ikan selais berbentuk pipih memanjang dengan kepala menyerupai kerucut. Tubuh ikan ini tidak memiliki sisik. Ciri lainnya berupa dua 'kumis' panjang di dekat mulutnya. Sungai Kampar, Sungai Kuantan, Sungai Rokan, Sungai Indragiri, dan Sungai Segati menjadi habitat hidup ikan selais. Selain di sungai, ikan air tawar ini juga bisa hidup di danau. Ikan selais umumnya diolah dengan cara diasap sekitar 8 jam. Lalu diolah lebih lanjut seperti digoreng, digulai, dan dipindang. Proses pengasapan ikan selais merupakan budaya turun temurun warga Riau untuk mengawetkan ikan. Disamping memunculkan aroma khas asap, proses ini juga membuat ikan selais awet hingga berbulan-bulan. Kekhasan ini pula yang membuat ikan salai selais menjadi buah tangan bagi para tamu yang melancong ke Riau. Meski bukan sentra penghasil ikan salai selais maupun ikan salai lainnya dari jenis ikan baung, patin, lele maupun sembilang, namun di Kota Bertuah dapat dengan mudah ditemukan pedagang menjual ikan ini. Umumnya pedagang ikan salai selais yang ada di Pekanbaru mendapat pasokan ikan salai dari Pelalawan, Kampar, dan Duri. Hampir di semua pasar tradisional menjual ikan asap ini. Jika tidak ingin repot bisa langsung datang ke sentra penjualan ikan salai yang berada di lantai dasar Pasar Bawah atau Pasar Wisata.  Zulkarnain, seorang pedagang ikan salai di Pasar Bawah, Sabtu (1/10/2016) menceritakan banyak hal tentang ikan salai.

Jika tak mencicipi gulai ikan salai, pastilah belum lengkap rasanya bila berkunjung ke Riau. Gulai ikan salai merupakan makanan khas Provinsi Riau.

Bahan utama gulai ikan salai selais, adalah ikan selais. Ikan yang hidup di perairan Riau ini sudah menjadi ikon di Bumi Lancang Kuning. Popularitas ikan bernama latin Kryptopterus lais ini pula yang menginspirasi berdirinya Tugu Ikan Selais Tiga Sepadan di Pekanbaru.
 
Ikan selais berbentuk pipih memanjang dengan kepala menyerupai kerucut. Tubuh ikan ini tidak memiliki sisik. Ciri lainnya berupa dua 'kumis' panjang di dekat mulutnya.
Sungai Kampar, Sungai Kuantan, Sungai Rokan, Sungai Indragiri, dan Sungai Segati menjadi habitat hidup ikan selais. Selain di sungai, ikan air tawar ini juga bisa hidup di danau.
Ikan selais umumnya diolah dengan cara diasap sekitar 8 jam. Lalu diolah lebih lanjut seperti digoreng, digulai, dan dipindang.
 
Proses pengasapan ikan selais merupakan budaya turun temurun warga Riau untuk mengawetkan ikan. Disamping memunculkan aroma khas asap, proses ini juga membuat ikan selais awet hingga berbulan-bulan. Kekhasan ini pula yang membuat ikan salai selais menjadi buah tangan bagi para tamu yang melancong ke Riau.
 
Meski bukan sentra penghasil ikan salai selais maupun ikan salai lainnya dari jenis ikan baung, patin, lele maupun sembilang, namun di Kota Bertuah dapat dengan mudah ditemukan pedagang menjual ikan ini. Umumnya pedagang ikan salai selais yang ada di Pekanbaru mendapat pasokan ikan salai dari Pelalawan, Kampar, dan Duri.
 
Sementara dari sisi harga, selain ditentukan berdasarkan jenis ikan, harga ikan salai juga bergantung pada ukuran ikannya. Semakin besar ikannya, maka akan semakin mahal pula harganya.

Bagi pembeli yang datang dari luar Riau dan ingin menjadikan ikan salai sebagai buah tangan, tak perlu khawatir cara mengemasnya. Pedagang ikan salai di Pasar Bawah sudah menyediakan kotak yang praktis untuk dibawa. Termasuk saat berada di pesawat.

Post a Comment

Previous Post Next Post